ORGANISASI MAHASISWA: TEMPAT BELAJAR ATAU TEMPAT KABUR BELAJAR?

Ditengah maraknya pembicaraan di media sosial mengenai organisasi kampus yang sudah tidak relevan di zaman sekarang yang hanya mendahulukan rapat sampai tengah malam, sibuk mencari dana untuk kegiatan yang tidak jelas tujuannya apa. Bahkan mereka sampai lupa belajar, tujuan mereka, dan fungsi mereka sebagai mahasiswa. Lebih ironisnya lagi realitas yang terjadi di dalam dunia organisasi mahasiswa saat ini justru ramai dan aktif berkegiatan tapi miskin budaya belajar. Apakah organisasi Mahasiswa masih menjadi ruang belajar, atau justru tempat untuk kabur dari belajar?  

Ketika kita berkaca kebelakang organisasi idealnya adalah sebagai tempat berpikir kritis, diskusi, riset, dan pengembangan intelektual. Akan tetapi realitas yang terjadi sekarang mulai terjadi pergeseran orientasi, yang dulunya sebagai tempat untuk membangun intelektual, kini organisasi mahasiswa lebih banyak pencitraan, seremoni, lomba, tapi minim diskusi ilmiah.

Fenomena seperti ini sering terjadi pada organisasi mahasiswa dimana budaya diskusi tergantikan dengan budaya berkegiatan yang menjauh dari semangat belajar. Sehingga dampak dari hilangnya budaya intelektual sangat mempengaruhi proses berpikir yang dimana seharusnya mahasiswa mampu berpikir kritis dan sadar akan kondisi sosial justru mulai menghilang dan mulai apatis dengan lingkungan sekitarnya. Setelah penulis melakukan riset kecil- kecilan ternyata Generasi sebelumnya, generasi sekarang dan wadahnya tidak menyentuh pada pengembangan intelektual, hanya memikirkan administratif semata.

Dampak dari fenomena ini adalah lahirnya sebuah generasi aktivis tapi miskin gagasan, sehingga sangat mudah diarahkan bahkan bisa saja dimanfaatkan oleh pihak tertentu yang mempunyai kepentingan. Lebih parahnya lagi ekploitasi sangat mungkin terjadi dengan tujuan pencitraan, sementara di lain sisi hak mereka untuk berkembang secara akademik terabaikan.

Siapa yang harus disalahkan? Penulis teringat ketika mendatangi sebuah kajian dimana pemateri tersebut mengurai permasalahan yang terjadi di  sebuah Universitas yang kini budaya berpikir kritis sudah mulai menghilang. Kemudian membedah situasi yang dulunya di setiap sudut fakultas menjadi ruang diskusi kini sudah tidak lagi, kajian yang dulunya ramai kini hanya di ikuti beberapa orang, yang paling penulis soroti pada kajian itu adalah aktor penyebab fenomena tersebut,  diamana aktor yang bertanggung jawab terhadap fenomena tersebut adalah bukan hanya generasi saat ini akan tetapi generasi sebelumnnya yang menyebabkan fenomena ini muncul, sehingga semua orang harus bertanggung jawab dan sadar  akan kondisi yang terjadi.

Penulis sadar akan ada banyak orang yang tidak setuju dengan tulisan ini, kemudian  penulis juga sadar telah ikut berkontribusi terhadap fenomena tersebut, akan tetapi muncul sebuah pertanyaan “sampai kapan kita akan menjadi seperti ini?” cukup fenomena tersebut terhenti di generasi ini. Dan dengan tulisan ini penulis berharap agar semua orang sadar akan kondisi atau realitas yang terjadi di dunia Organisasi.  Sejatinya organisasi harus kembali ke khitah nya yaitu ruang belajar, perlu integrasi antara kerja organisasi, pengembangan intelektual, beepikir kritis, serta sadar akan kondisi sosialnya. Jadi jika kita masih bangga dengan kondisi seperti ini tapi lupa mengurus isi kepala, kemungkinan besar kita memang sedang kabur dari belajar, berpikir dan tanggung jawab.

Penulis: Muh Al Ansyari, Mahasiswa Ekonomi Islam, Angkatan 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tolak Penjualan Buku Oleh Dosen, Aksi Kampanye LK FEBI

MENEROPONG PENDIDIKAN MAINSTREAM UINAM MELALUI PENDIDIKAN KRITIS