Virus Corona dan Pengaruhnya Terhadap Stabilitas Ekonomi Politik Negara
Virus Corona dan Pengaruhnya Terhadap Stabilitas Ekonomi Politik Negara
Oleh : Azhar Prayoga M. dan Aiman Sabar Rezeky
Sungguminasa, Kab. Gowa, Sulawesi Selatan, Indonesia
Ketika pada akhirnya penyebaran Virus Corona melanda beberapa negara, semua negara panik. Bukan karena kawatir atas virus corona, tetapi lebih pada dampak kerusakan ekonomi akibat adanya virus corona itu.
Bursa saham jatuh, pabrik menurunkan produksinya bahkan ada yang tutup, PHK terjadi dimana mana, bisnis pusat wisata terancam gulung tikar karena sepi wisatawan, bandara sepi., suasana mencekam terbentuk akibat pemberitaan hoax terhadap Corona.
Arab kehilangan pendapatan dari wisatawan Haji, ibadah haji sebagai simbol agama samawi terancam runtuh. Mereka juga kehilangan pendapatan dari ekspor migas, karena 2/3 pembeli migas Arab adalah China. Kepanikan ekonomi juga melahirkan krisis politik di Arab.
Di AS juga terjadi kepanikan., banyak distributor yang gulung tikar karena kurang suplai barang dari China. Masyarakat AS yang panik memborong kebutuhan sehari-hari, karena khawatir Pemerintah tidak mampu menyediakan barang-barang tersebut. Akibat prahara corona..., di AS sudah 600 orang terinfeksi virus.
Demikian juga Eropa yang mencekam sejak Itali mengkarantikan 16 juta orang penduduknya. Dari perang dagang menuju perang harga minyak, seluruh bursa jatuh. Kepanikan yang meluas tak bisa dihindari.
Ekonomi negara setelah memberlakukan lock down, jelas akan hancur lebur. Sembako jika tdk dikontrol, akan langka dipasaran. Pelayanan publik stop total, pusat-pusat keramaian ditutup, beribadah Di rumah masing-masing.
Yg terjadi di Indonesia saat ini :
"Pembatasan Sosial Berskala Besar merupakan bagian dari upaya memutus wabah, dengan mencegah interaksi sosial skala besar dari orang-orang di suatu wilayah."
Paling sedikit yang dilakukan adalah sekolah dan kantor diliburkan, acara keagamaan dibatasi atau kegiatan yang skalanya besar dibatasi. Skala lebih tinggi: Penutupan toko dan mall, penutupan tempat hiburan yang banyak dikunjungi orang, atau tindakan apapun yang tujuannya mencegah orang banyak berkumpul.
Kuat dugaan langkah Lockdown urung untuk dilakukan karena pertimbangan Ekonomi, apalagi ditambah dengan krisis nilai tukar rupiah terhadap dollar yang nyaris menembus angka Rp. 16.000 (19/03). Indeks Harga Saham Gabungan pun terjun bebas selama sebulan ini ketika diperdagangkan, yakni mengalami 29,9 persen penurunan.
Ekonom Rizal Ramli memprediksi kondisi perekonomian Indonesia bakal ambruk pada Kuartal II dan III tahun ini. Virus Corona menurutnya bukanlah trigger atau pemicu ambruknya Ekonomi, melainkan faktor belakangan yang hadir memperkuat sinyal pelambatan ekonomi. Persoalan Bubble Economy. Gelembung makro ekonomi, gagal bayar, anjloknya daya beli, kehadiran bisnis digital dan penurunan pendapatan petani. Rupiah yang bertahan dan sempat menguat beberapa waktu yang lalu itu karena didoping oleh dollar, yakni pinjaman yang berbunga tinggi. Kalau dopingnya mulai kering ya tentunya rupiah ikut terjun bebas.
Masih menurut Rizal Ramli, semua indikator ekonomi merosot lebih jelek dibandingkan 10-15 tahun lalu. Defisit neraca perdagangan, transaksi berjalan, taxation dan sebagainya. Gelembung daya beli merosot tajam, penjualan pun anjlok, sebab tahun lalu pertumbuhan kredit hanya di angka 6,02 persen. Jika kondisi ekonomi normal, maka angka ekonomi tumbuh 6,5 persen dan pertumbuhan kredit bisa mencapai 15-18 persen.
Belum lagi gagal bayar kasus Jiwasraya, total gagal bayar menembus Rp 33 Triliun dan persoalan mega skandal korupsi yang menyeret beberapa perusahaan milik negara, jadi kalau saja diibaratkan seorang petinju, ketika sudah goyang karena banyak/mabuk hutang, digap dengan gagal bayar, ujungnya jatuh/krisis!
Namun ditengah empati dan kekhawatiran kita pada musibah virus ini, krisis ini selalu membuka celah, selalu membuka peluang, bagi lahirnya peta ekonomi baru yang mudah-mudahan berkeadilan.
Nampak dunia sedang menuju titik kesetimbangannya.
Banyak hal positif...
Keluarga menyatu di rumah, akibat libur dan cuti yang panjang. Kerja dari rumah. Ayah dan ibu yang biasanya tidak bisa berinteraksi dengan anak, jadi terpaksa ngumpul dan guyub di rumah. Sekolah libur.
Jalanan sepi, akhirnya bumi istirahat dari polusi karbon. pabrik berhenti beroperasi. Artinya pabrik berhenti bakar batu bara untuk power plant. Ozon merecovery dirinya. Langit biru.
Tempat-tempat wisata alam yang lelah dengan tangan usil manusia kini sedang revive. Sepi. Nampak alam sedang memperbaiki diri.
Para trainer dan pembicara mengalami cancel delay acara. Saatnya kembali membaca. Belajar tafsir. Mengasah keilmuwan. Ber itikaf jiwa dan fikiran untuk kembali hadir segar ke ummat.
Mari kita baca dari dua sisi...Semoga masalah dunia kali ini membawa dunia pada kesetimbangan dunia yang baru...
Kepemimpinan, politik, ekonomi, sosial, ....
Semoga yang hadir lebih baik...
Yang lebih adil...
Yang lebih menjaga kehidupan...
Yang lebih merawat ummat manusia...
Yang lebih menjaga peradaban...
Komentar
Posting Komentar