Kemesraan AS - China, dan Bonus Demografi Indonesia

Kemesraan AS - China, dan Bonus Demografi Indonesia

Meskipun ditengah Pandemi Covid-19, istilah bonus demografi tetap hangat menjadi buah bibir kaum intelektual. Mulai dari mahasiswa, civitas akademik, peneliti, maupun lembaga Advokasi.

Indonesia menempati negara polulasi terbesar ke-4 di dunia, mencatat penduduk usia non produktif 6-15 tahun lebih membludak dibanding usia penduduk produktif dan usia penduduk lansia. Hal ini menjadi kabar gembira bagi Indonesia emas tahun 2035 ke depan.

Demografi sendiri merupakan ilmu tentang susunan, jumlah, dan perkembangan kependudukan dan distribusi penduduk, serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan. (Menurut KBBI)

Bonus demografi dianggap "kado berharga" apabila bisa dipastikan SDM usia nonproduktif 6-15 tahun memiliki kualitas yang baik, maka 20 tahun kedepan, Indonesia akan semakin maju karena aktor perubahannya adalah SDM berkualitas. Namun, apabila SDM usia nonproduktif 6-15 tahun tidak memiliki kualitas yang baik, maka bonus demografi justru hanya menjadi sebuah _disaster/malapetaka_ bagi indonesia pada dua puluh tahun kedepan.

Dalam upaya menjemput bonus demografi ini, pemerintah menerapkan peningkatan kualitas pendidikan, membuka lapangan pekerjaan, dan meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 sebagai wujud kesiapan memasuki era industri 4.0 (dilansir liputan 6.Com). Pantas saja belakangan ini setiap ada lembaga sosial/kemahasiswaan mengadakan seminar nasional pasti kebanyakan membahas Revolusi Industri 4.0. Termasuk HMJ Ekonomi Islam Uinam satu - dua periode sebelumnya. Wkwkwk..

_AS - China_
Namun dibalik itu, satu hal yang perlu dipertanyakan, siapa yang dirugikan dengan Indonesia emas dua puluh tahun ke depan ? Nah kali ini mungkin saya belum bisa menyebutkan secara langsung identitas pihak yang potensi dirugikan. Tetapi percaya atau tidak, siapapun yg memegang kekuasaan/peradaban maka itulah yang punya kuasa lebih memberi kontrol segala hal yang potensi mengganggu kekuasaannya secara internal maupun eksternal. Bukan Internal HMJ yahh, internal HMJ itu mah tanggungjawab pengurus. Nanti dipertanggungjawabkan di MUBES. Hahaha, Demisioner santui kanda : )...

AS merupakan negara paling berpengaruh semenjak pasca perang dingin melawan Uni Soviet hingga hari ini. Kemudian salahsatu visi Donal Trump selama jadi presiden adalah Mengembalikan Kejayaan Amerika, "The First America" kata Trump yang menuai banyak makna dalam pidato inagurasinya, seperti dilansir dari CNN, Senin (23/1/2017).

Beberapa bulan yang lalu masyarakat dunia digegerkan oleh berita mengejutkan media televisi dan sosial media lainnya, bahwa beberapa negara kuat yang potensi mengganggu kekuasaan AS itu kemudian mendapat perlawanan persuasif bahkan represif dari AS. Seperti terbunuhnya jendral Qasem Soleimani Iran, Turki dan Rusia disibukkan dengan kekacauan di Suriah, dan China mendapat tuduhan sebagai dalang penyebaran pandemi Covid-19 ke penjuru dunia. Dari beberapa fakta mengejutkan diatas, lantas apa hubungannya dengan Bonus Demografi yang ada di negara kita ? Baik silahkan baca dengan seksama dan saya mencoba jelaskan dengan tempo sesingkat-singkatnya.

Dalam analisis, salah satu negara hebat yang meroket kekuatan ekonominya yang seringkali mendapat perlawanan dari AS adalah China (Tiongkok). Bagaimana tidak, China menerapkan teori berimbang (Equilibrium = nama angkatan EI 2016 _Skefo_) antara _kualitas dan kuantitas SDM_ penduduknya. Tidak mengherankan karena populasi China merupakan populasi terbesar di dunia dengan mencatat 1,4 milyar jiwa atau sekitar 18.4% penduduk dunia (data menurut CIA World Factbook, tahun 2020).

Kehebatan China dengan memperdayakan keunggulan SDMnya, itu kemudian bisa menjadi edukasi buat Indonesia untuk menjemput bonus demografi dua puluh tahun mendatang mengingat angka populasi Indonesia merupakan terbesar ke-4 di dunia. Jadi pada masa akan datang, setiap SDM generasi Indonesia harus produktif, memiliki kualitas unggul, progresif, berkarakter dan kompetitif sehingga mampu bersaing di kanca global. Yahh kurang lebih seperti VISI PENGURUS HMJ EKONOMI ISLAM PERIODE 2019, meskipun belum terealisasi maksimal. Wkwk..

Catatan edukasi China terhadap Indonesia, bukan sebatas pada pemberdayaan penduduk serta strategi menjemput bonus demografi. Tetapi mau tidak mau, bersiap-siaplah mendapatkan _pressure_ atau tekanan dari otoritas kekuasaan yang pegang peradaban dunia masa akan datang. Baik settingan masalah internal, konspirasi bahkan terlibat dalam perang dagang. Entah masih Amerika atau negara adidaya lainnya. Karena pada hakikatnya negara baru naik daun yang kekuatan ekonominya akan menjadi beban bagi negara paling berpengaruh pada saat yang sama.

Jadi.. berangkat dari asumsi diatas, kita sebagai generasi penentu nasib masa depan bangsa, sudah menjadi satu dorongan moralitas untuk kemudian saling menyebarkan kesadaran kolektifitas akan Bonus Demografi. Menjadi pribadi positif, meresap dan menyebarkan nilai-nilai positif, toleransi dalam berbudaya dan beragama, produktif di waktu senggang, memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan, menjauhi tindakan kriminalitas, dan menjunjung tinggi sikap Nasionalisme.



Penulis:Muhammad Khudri
Ketua HMJ EKONOMI ISLAM PERIODE 2019

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

ORGANISASI MAHASISWA: TEMPAT BELAJAR ATAU TEMPAT KABUR BELAJAR?

Tolak Penjualan Buku Oleh Dosen, Aksi Kampanye LK FEBI

MENEROPONG PENDIDIKAN MAINSTREAM UINAM MELALUI PENDIDIKAN KRITIS