Wabah Dan Segala Pemaknaan
Wabah Dan Segala Pemaknaan
Seperti sebuah sajak tentang kutukan
Heningkan dunia dalam segala macam bentuk kegiatan
Membubuhi duka lebih dari sepekan bahkan sebulan
Karena setiap waktu bergeming pembodohan
Entahlah dengan perwakilan kata apa Mungkin ini manifestasi manusia
Dengan balutan eksploitasi yang berpesta pora
Merusak akal lewat konspirasi ragam berita
Kita percaya pada berita kebohongan
Ikut serta di media-media yang mengobarkan penggiringan opini dan perbudakan
Menggambarkan surga buatan dan neraka plesetan
Mengenai persoalan wabah yang kian dimanfaatkan
Saat kepentingan mengontrol pasar industri
Saat berita tak pasti menjadi kunci bahasa kompensasi
Saat penyebaran wabah menyerbak luas ke segala penjuru negeri
Begitu senggang, begitu lengang, begitu tiada
Seperti hidup itu hanya dilalui sendiri
Pada rasa khawatir yang sedang menyelimuti bumi
Kita terlarut dalam tanya tiada henti
Melayang dalam resah kalutnya kondisi
Mencari secercah sinar pada relung intuisi
Sebuah wabah yang selalu menunggu nisan bertuliskan wafat dan tubuh dalam keadaan mati
Namun bila keselamatan hanya ditentukan oleh negosiasi
Maka kita adalah wabah untuk diri kita sendiri
Kita yang terbiasa merayakan kesedihan
Tak sanggup menerima kenyataan
Bahwa mati adalah kesunyian
Dan sejatinya sejak dahulu selalu begitu, hanya saja
kita mengingkarinya dengan keramaian
dan bunyi-bunyian
Entahlah mungkin tak ada keterkaitan
Tentang wabah dan segala pemaknaan.
Kusudahi rangkaianku ini.
Sedikit melelahkan dan memusingkan merangkai kata dalam keadaan penuh ketidakpastian.
Penulis : Diaz Erlangga, (Mahasiswa Ekonomi Islam UINAM Angkatan 2017)
Seperti sebuah sajak tentang kutukan
Heningkan dunia dalam segala macam bentuk kegiatan
Membubuhi duka lebih dari sepekan bahkan sebulan
Karena setiap waktu bergeming pembodohan
Entahlah dengan perwakilan kata apa Mungkin ini manifestasi manusia
Dengan balutan eksploitasi yang berpesta pora
Merusak akal lewat konspirasi ragam berita
Kita percaya pada berita kebohongan
Ikut serta di media-media yang mengobarkan penggiringan opini dan perbudakan
Menggambarkan surga buatan dan neraka plesetan
Mengenai persoalan wabah yang kian dimanfaatkan
Saat kepentingan mengontrol pasar industri
Saat berita tak pasti menjadi kunci bahasa kompensasi
Saat penyebaran wabah menyerbak luas ke segala penjuru negeri
Begitu senggang, begitu lengang, begitu tiada
Seperti hidup itu hanya dilalui sendiri
Pada rasa khawatir yang sedang menyelimuti bumi
Kita terlarut dalam tanya tiada henti
Melayang dalam resah kalutnya kondisi
Mencari secercah sinar pada relung intuisi
Sebuah wabah yang selalu menunggu nisan bertuliskan wafat dan tubuh dalam keadaan mati
Namun bila keselamatan hanya ditentukan oleh negosiasi
Maka kita adalah wabah untuk diri kita sendiri
Kita yang terbiasa merayakan kesedihan
Tak sanggup menerima kenyataan
Bahwa mati adalah kesunyian
Dan sejatinya sejak dahulu selalu begitu, hanya saja
kita mengingkarinya dengan keramaian
dan bunyi-bunyian
Entahlah mungkin tak ada keterkaitan
Tentang wabah dan segala pemaknaan.
Kusudahi rangkaianku ini.
Sedikit melelahkan dan memusingkan merangkai kata dalam keadaan penuh ketidakpastian.
Penulis : Diaz Erlangga, (Mahasiswa Ekonomi Islam UINAM Angkatan 2017)
Komentar
Posting Komentar