DINAMIKA KELOMPOK
PENDAHULUAN
Dinamika
kelompok atau group dynamic, muncul di Jerman pada menjelang tahun 1940-an,
diilhami oleh teori kekuatan medan yang terjadi di dalam sebuah kelompok,
akibat dari proses interaksi antar anggota kelompok. Teori ini dikembangkan
oleh ahli-ahli psikologi Jerman penganut aliran gestalt psycology. Salah
seorang tokohnya adalah Kurt Lewin yang terkenal dengan Force-Field Theory.
Mereka melihat sebuah kelompok sebagai satu kesatuan yang utuh, bukan sebagai
kumpulan individu-individu yang terlepas satu sama lain. Kesatuan ini muncul
sebagai resultan dari adanya gaya tarik menarik yang kuat diantara unsur-unsur
yang terlibat di dalamnya. Unsur-unsurnya adalah manusia yang ada dalam
organisasi, yang masing-masing bertindak sebagai ego, dengan gaya-gaya
tertentu, sehingga terjadilah saling tarik menarik, yang akhirnya menghasilkan
resultan gaya yang kemudian menjadi kekuatan kelompok.[1]
Dinamika
merupakan suatu pola atau proses pertumbuhan, perubahan atau perkembangan dari
suatu bidang tertentu, atau suatu sistem ikatan yang saling berhubungan dan
saling mempengaruhi antara unsur yang satu dengan yang lain, karena adanya
pertalian yang langsung diantara unsur-unsur tersebut. Pengertian dinamika ini
lebih menekankan pada gerakan yang timbul dari dalam dirinya sendiri, artinya
sumber geraknya berasal dari dalam kelompok itu sendiri, bukan dari luar
kelompok, akibat dari proses interaksi antar anggota kelompok.
Kelompok adalah suatu kumpulan yang terdiri dari dua
orang atau lebih, apabila memenuhi kualifikasi yaitu keanggotaan yang jelas,
adanya kesadaran kelompok, suatu perasaan mengenai adanya kesamaan tujuan atau
sasaran atau gagasan, saling ketergantungan dalam upaya pemenuhan kebutuhan,
terjadinya interaksi dan kemampuan untuk bertindak dengan suatu cara tertentu
yang telah disepakati. Dinamika Kelompok secara harfiyah
merupakan sebuah kata majemuk, terdiri dari dinamika dan kelompok, yang
menggambarkan adanya gerakan bersama dari sekumpulan orang atau kelompok dalam
melakukan aktivitas organisasi.[2]
Dinamika
Kelompok adalah suatu metoda dan proses yang bertujuan meningkatkan nilai-nilai
kerjasama kelompok. Artinya metoda dan proses dinamika kelompok ini berusaha
menumbuhkan dan membangun kelompok, yang semula terdiri dari kumpulan individu-individu
yang belum saling mengenal satu sama lain, menjadi satu kesatuan kelompok
dengan satu tujuan, satu norma dan satu cara pencapaian berusaha yang
disepakati bersama. Dinamika kelompok sebagai suatu metoda dan proses,
merupakan salah satu alat manajemen untuk menghasilkan kerjasama kelompok yang
optimal, agar pengelolaan organisasi menjadi lebih efektif, efisien dan
produktif. Sebagai metoda, dinamika kelompok, membuat setiap anggota kelompok
semakin menyadari siapa dirinya dan siapa orang lain yang hadir bersamanya
dalam kelompok dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Kesadaran semacam ini perlu diciptakan karena kelompok atau organisasi akan
menjadi efektif apabila memiliki satu tujuan, satu cara tertentu untuk mencapai
tujuan yang diciptakan dan disepakati bersama dengan melibatkan semua individu
anggota kelompok tersebut sesuai dengan kemampuannya masing-masing.[3]
Mengenali
diri sendiri, mencakup pemahaman tentang potensi yang dimiliki dan mengetahui
cara-cara pemanfaatannya serta cara-cara pengembangannya yang sesuai.
Pengetahuan, pemahaman dan keterampilan demikian, sangat relevan untuk
mewujudkan keberhasilan, baik secara individu maupun dalam hubungannya dengan
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam hal ini dinamika
kelompok lebih ditekankan kepada aspek psikologis dan tingkah laku individu
dalam kelompok. Dinamika kelompok merupakan gambaran hubungan antar individu
dalam kelompok yang penekanannya pada aspek psikologis.[4]
Dinamika kelompok sebagai salah satu alat manajemen untuk menghasilkan
kerjasama kelompok yang optimal agar pengelolaan kelompok menjadi lebih
efektif, efisien, dan produktif. Sebagai metode, dinamika kelompok membuat
setiap anggota kelompok semakin menyadari dirinya dan orang lain yang hadir
bersamanya dalam kelompok dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Kesadaran ini perlu diciptakan karena kelompok atau organisasi akan menjadi
efektif apabila memiliki satu tujuan. Sebagai proses, dinamika kelompok
berupaya menciptakan situasi sedemikian rupa sehingga membuat seluruh anggota
kelompok merasa terlibat secara aktif dalam setiap tahap perkembangan atau
pertumbuhan kelompok dan setiap orang merasakan dirinya sebagai bagian dari
kelompok. Dengan demikian, setiap individu dalam organisasi merasa turut
bertanggung jawab secara penuh terhadap pencapaian tujuan organisasi yang lebih
luas.[5]
·
Argumen
Dinamika kelompok dapat dipahami
sebagai proses penguraian hal-hal yang mempengaruhi kinerja organisasi.
Ditinjau dari aspek psikologi seringkali adanya sebuah polarisasi yang terjadi
sehingga perilaku dalam individu
dipengaruhi oleh perilaku kelompok. Kohesivitas interaksi antar individu dalam
kelompok seringkali menimbulkan hal-hal yang mempengaruhi kinerja organisasi.
Adanya hubungan sebagai fasilitasi
sosial dalam interaksi antar individu penting ditingkatkan, Namun interaksi
yang menimbulkan hambatan sosial yang berpotensi menimbulkan konflik internal
harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya agar tidak menimbulkan masalah dalam
kinerja organisasi.
Berbicara hambatan sosial dalam
interaksi antar individu dalam kelompok ada berbagai bentuk semisal, Dalam
kelompok adanya satu
anggota yang mencampuradukkan masalah pribadi dan masalah di organisasi.
Ketidakmampuan individu untuk menahan emosi yang lahir dari permasalahan diluar
organisasi sehingga bersangkutpaut dan malah menjadi masalah dalam organisasi
inilah yang sering ditemui sebagai hambatan sosial.
Menguraikan hambatan sosial yang
terjadi seperti diatas dapat mempermudah pencarian solusi dalam masalah
tersebut. Pertama-tama ketika hal seperti itu terjadi harus ada upaya untuk
meredam masalah tersebut dikarekan masalah ini adalah sebuah masalah individu
sehingga apabila direspon berlebihan dapat melahirkan masalah baru, bagaimana istilah
menutup masalah sebesar kertas dengan solusi sebesar kertas itu penting.
Setelah mencari data-data yang kemudian menjadi penyebab masalah tersebut
terjadi semisal masalah dengan orang tua, lanjut pada proses memberi pemahaman
yang baik dengan mengupaya individu tenang.
Namun setelah berbagai upaya gagal
dilakukan,upaya selanjutnya memberikan ruang untuk individu tersebut
menyampaikan keresahannya bersama dengan anggota yang dianggap mampu meredam
emosi individu tersebut. Mengkomunikasikan dengan baik setelah mempertimbangkan
masalah individu contoh tidak terlalu menekan serta memberi waktu istirahat
sebagai momentum untuk menyelesaikan masalah pribadi individu.
·
Kesimpulan
Dinamika Kelompok adalah suatu metoda dan proses
yang bertujuan meningkatkan nilai-nilai kerjasama kelompok. Artinya metoda dan
proses dinamika kelompok ini berusaha menumbuhkan dan membangun kelompok, yang
semula terdiri dari kumpulan individu-individu yang belum saling mengenal satu
sama lain, menjadi satu kesatuan kelompok dengan satu tujuan, satu norma dan
satu cara pencapaian berusaha yang disepakati bersama. Dinamika kelompok
sebagai suatu metoda dan proses, merupakan salah satu alat manajemen untuk
menghasilkan kerjasama kelompok yang optimal, agar pengelolaan organisasi menjadi
lebih efektif, efisien dan produktif. Sebagai metoda, dinamika kelompok,
membuat setiap anggota kelompok semakin menyadari siapa dirinya dan siapa orang
lain yang hadir bersamanya dalam kelompok dengan segala kelebihan dan
kekurangannya masing-masing.
Dinamika kelompok dapat dipahami sebagai proses
penguraian hal-hal yang mempengaruhi kinerja organisasi. Ditinjau dari aspek
psikologi seringkali adanya sebuah polarisasi yang terjadi sehingga perilaku dalam individu dipengaruhi oleh
perilaku kelompok. Kohesivitas interaksi antar individu dalam kelompok
seringkali menimbulkan hal-hal yang mempengaruhi kinerja organisasi. Adanya
hubungan sebagai fasilitasi sosial dalam
interaksi antar individu penting ditingkatkan, Namun interaksi yang menimbulkan
hambatan sosial yang berpotensi menimbulkan konflik internal harus diselesaikan
dengan sebaik-baiknya agar tidak menimbulkan masalah dalam kinerja organisasi.
[1] Santosa S, Dinamika Kelompok (Jakarta: Bumi Aksara, 1993)
[2] Munir B, Dinamika Kelompok, Penerapannya dalam Laboraterium Ilmu
Perilaku (Jakarta: Universitas Sriwijaya, 2001)
[3] Nasrullah Nazsir, Dinamika
Kelompok dan Kepemimpinan Dalam Penelitian (Bandung: Widya Padjajaran,
2008)
[4] Harmaini dkk, psikologi
Kelompok (Radja Grafindo Persada 2016)
[5] Slamet Santosa, Dinamika
Kelompok (Jakarta: Bumi Aksara,2006)
Komentar
Posting Komentar