MANAJEMEN KONFLIK DALAM ORGANISASI TERHADAP KEPEMIMPINAN
Konflik bisa terjadi karena perbedaan dalam pemaknaan yang disebabkan karena perbedaan pengalaman. Perbedaan pengalaman dapat dilihat dari perbedaan latar belakang kebudayaan yang membentuk pribadi-pribadi yang berbeda. Seseorang akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan karakter individu yang dapat memicu konflik. Dalam setiap organisasi/perusahaan, perbedaan pendapat sering kali disengaja atau dibuat sebagai salah satu strategi para pemimpin untuk melakukan perubahan. Perubahan tersebut dapat dilakukan dengan menciptakan sebuah konflik. Akan tetapi, konflik juga dapat terjadi secara alami karena adanya kondisi obyektif yang dapat menimbulkan terjadinya konflik.
Manusia yang terdiri dari berbagai latar belakang, persepsi, dan budaya, terkumpul dalam suatu organisasi yang menuntut sebuah pencapaian, memberi dampak tersendiri kepada para anggota organisasi tersebut. Salah satu dampak yang terjadi ialah konflik personal dan interpersonal. Hal ini diperkuat oleh Wirawan (2010:55-59) yang menyebutkan bahwa terdapat beberapa jenis konflik yakni konflik personal dan interpersonal, konflik interes, serta konflik realistis dan nonrealistis. Berbagai bentuk konflik yang terjadi di dalam organisasi menjadi sebuah tugas sekaligus tantangan bagi orang-orang yang berada di dalamnya. Tugas dan tantangan tersebut berupa pengelolaan konflik yang didesain berdasarkan pola atau karakteristik konflik yang terjadi disetiap organisasi.
Konflik merupakan masalah hubungan dalam komunikasi antarpribadi. Jika hubungan dalam komunikasi antarpribadi sudah tidak berjalan dengan baik, maka kemungkinan besar hubungan komunikasi dalam skala yang lebih besar tidak akan berjalan baik pula. Dalam komunikasi antarpribadi komunikan dan 2 komunikator harus dapat memahami maksud atau pesan yang disampaikan supaya pesan yang diterima sama dengan pesan yang disampaikan. Perbedaan pesan yang diterima dengan pesan yang disampaikan inilah yang menjadi penyebab utama timbulnya konflik.
Ketika dua orang sepakat mengenai interpretasi satu sama lain, mereka dikatakan telah mencapai makna interpersonal. Makna interpersonal saling diciptakan oleh para partisipan dalam komunikasi interpersonal. Komunikasi interpersonal merujuk pada komunikasi yang terjadi antar dua orang. Dalam komunikasi terjadi pertukaran pesan yang memiliki makna interpersonal. Makna interpersonal adalah makna yang terbentuk oleh pribadi-pribadi dengan pengalaman hidupnya yang berbeda-beda. Pesan yang disampaikan oleh komunikan kepada komunikator dapat memiliki makna yang berbeda, oleh karena itu dapat menimbulkan sebuah permasalahan baru.
Manajemen konflik berperan penting sebagai alat dalam mengarahkan konflik negatif kepada konflik positif. Mengingat pentingnya pengelolaan konflik dalam organisasi mengindikasikan bahwa konflik yang timbul diantara anggota organisasi memberikan pengaruh terhadap keberlangsungan hubungan para anggotanya yang kemudian dapat berdampak pada kinerja yang dicapai.
Semua sumber daya manusia harus dapat memahami dengan benar budaya organisasinya, karena pemahaman ini sangat berkaitan dengan setiap langkah ataupun kegiatan yang dilakukan berdasarkan budaya organisasi. Perilaku individu dalam organisasi juga sangat berpengaruh pada berjalannya sebuah organisasi.
Mengingat kegagalan dalam mengelola konflik dapat menghambat pencapaian tujuan organisasi, maka pemilihan terhadap teknik pengendalian konflik menjadi perhatian pimpinan organisasi. Sementara pendekatan hubungan manusia menerima konflik, pendekatan intraksionis mendorong konflik atas dasar bahwa kelompok yang kooperatif, tenang, damai, serasi cendrung menjadi statis, apatis, dan tidak tanggap terhadap kebutuhan akan perubahan dan inovasi. Oleh karena itu sumbangan utama dari pendekatan intraksionis adalah mendorong pemimpin kelompok untuk mempertahankan suatu tingkat minimum berkelanjutan dari konflik. Dengan adanya pandangan ini menjadi jelas bahwa untuk mengatakan bahwa konflik itu seluruhnya baik atau buruk tidaklah tepat.
Dengan kemampuan dan sikap yang bijak, pemimpin harus berupaya untuk :
1. mencegah terjadinya konflik;
2. meredam dan melokalise konflik tidak berkembang;
3. menyelesaikan konflik dalam waktu sesingkat mungkin; dan
4. mengurangi dampak konflik seminimal mungkin agar tidak menjadi hambatan dalam pencapaian tujuan organisasi.
Keberadaan konflik dalam suatu organisasi tidak dapat dihindarkan. Konflik sering muncul dan terjadi pada setiap organisasi. Banyak faktor yang menyababkan adanya konflik, diantaranya ialah faktor ketidaksamaan prinsip atau pendapat, pandangan, sistem penilaian terhadap sesuatu khususnya mengenai cara untuk mencapai tujuan organisasi. Sebagaimana kita ketahui, meskipun konflik akan berperan selalu salah dan cenderung merugikan. Namun konflik dapat menjadi positif selama kita dapat memperkuat kelompok/organisasi itu sendiri.
Dapat disimpulkan bahwa konflik merupakan bentuk hubungan interaksi satu individu dengan individu lainnya atau satu kelompok dengan kelompok lainnnya, dimana masing masing pihak secara sadar melakukan tindakan untuk mempertentangkan sesuatu entah itu perbedaan nilai, perbedaan tujuan, perbedaan pendapat yang kerap menimbulkan kekerasan. Menejemen koflik adalah suatu upaya mengelola konflik atau masalah dalam suatu kelompok agar supaya tidak menimbulkan kerugian yang besar terhadap organisasi. Dalam organsasi sesekali perlu adanya konstruk konflik untuk mencapai tujuan tertentu yang siafatnya positif bagi organisasi, namun adapula konflik yang terjadi begitu saja tapa adanya perencanaan, dan konflik seprti ini akan mengakibatkan kerugian bagi organisasi.
Persoalan konflik dalam organisasi, saya akan mencoba mengangkat suatu konteks yang ada di himpunan mahasiswa jurusan ekonomi isalam, yakni koflik antar angkaatn atau sekat angkatan. Seringkali antar angkatan berkonflik karena perbdaan pandangan, atau tidak kesepahaman terhadap sesuatu, begitupula dengan miskomunikasi yang sering terjadi. Dalam kasus seperti ini saya kira perlu ada upaya yang harus di lakukan olah organisasi atau pemimpin organisasi untuk mengubur persoalan seperti itu, salah satu yang bisa di upayakan adalah mengadakan sharing session dengan melibatkan semua keluarga ekonomi islam, memberikan ruang untuk membangun kembali hubungan emosional antar angkatan melalui kegiatan makan makan, ataupun acara informal lainnya.
konflik dalam organisasi sangat erat kaitanya dengan kepemimpinan atau gaya seseorang dalam memimpin, jadi sangat penting kemudian seorang pemimpin berpikir dan mempertimbangkan segala sesuatu sebelum melakukan tindakan. perilaku sangat menentukan bagaimana jalannya orgnisasi ataupun konflik dan masalah yang akan terjadi kedepannya. Adapun karakter yang hendak dimiliki oleh seorang pemimpin adalah
1. Memiliki pendirian teguh, artinya seorang pemimpin tidak mudah terpengaruh oleh perkataan orang lain, pendirian yang teguh akan menjadikan pemimpin berjalan ssuai dengan visi misi dan tujuannya.
2. Jujur, artinya seorang pemmpin harus selalu jujur dan terbuka terhdap anggota dalam komdisi apapun, sengga hambatan dapat di selesaikan secara bersama
3. Adil, pemimpin yang adil akan mengerti dan tahu terhadap pekerjaaan apa saja yang pantas kepada anggotanya sesuai dengan batas kemampuannya.
4. Cerdas, pemimpin hendaklah memiliki karakter yang wawasannya luas
5. Mampu bersikap tenang dalam kondisi apapun, dalam menjalankan kepemimpinan organisasi, mental harus kuat sehingg tidak mudah down dal kondisi yg tidak pernah terpikirkan sebelumnya
6. Komunikasi yang baik, dengan adamya komunikasi yang baik di garapkan akan mencegah perbedaa pandangan dalam organisasi
7. Bertanggung jawab, resiko yang mungkin akan terjadi dalam suatu organisasi mungkin begitu banyak.
8. Menginspirasi, artinya seorang pemimpi harus bisa memberikan hal hal positif terhadap anggotanya
9. Empati, artinya seorang pemimpin harus memiliki kepedulian terhadap anggotanya sehingga himpunan mahasiswa jurusan ekonomi islam akan menjadi lembaga internal yang humanis.
KESIMPULAN
Manajemen konflik berperan penting sebagai alat dalam mengarahkan konflik negatif kepada konflik positif. Mengingat pentingnya pengelolaan konflik dalam organisasi mengindikasikan bahwa konflik yang timbul diantara anggota organisasi memberikan pengaruh terhadap keberlangsungan hubungan para anggotanya yang kemudian dapat berdampak pada kinerja yang dicapai.
Keberadaan konflik dalam suatu organisasi tidak dapat dihindarkan. Konflik sering muncul dan terjadi pada setiap organisasi. Banyak faktor yang menyababkan adanya konflik, diantaranya ialah faktor ketidaksamaan prinsip atau pendapat, pandangan, sistem penilaian terhadap sesuatu khususnya mengenai cara untuk mencapai tujuan organisasi. Sebagaimana kita ketahui, meskipun konflik akan berperan selalu salah dan cenderung merugikan. Namun konflik dapat menjadi positif selama kita dapat memperkuat kelompok/organisasi itu sendiri.
Penulis : A. Kamilatul Ilmi Mahasiswa Ekonomo Islam Angkatan 2019
Komentar
Posting Komentar