INTELEKTUALITAS PADA KADERISASI
Pendahuluan
Secara umum dalam organisasi atau lembaga sering kita
dapati bahwa organisasi tersebut mempunyai aturan main atau konstitusi yang
berlaku dan mengikat seluruh elemen yang ada dalam organisasi atau lembaga
tersebut. Organisasi atau lembaga juga mempunyai jenis-jenisnya. Salah satunya
adalah organisasi kemahasiswaan.
Organisasi
kemahasiswaan merupakan sebuah wadah pengembangan kompetensi diri yang menuntut
mahasiswa untuk bersaing. Pengalaman dalam berorganisasi merupakan modal utama
untuk menunjang keberlangsungan hidup di masa depan. Tentu pengalaman tersebut
berangkat dari apa yang kemudian menjadi agenda organisasi. Secara umum
organisasi kemahasiswaan mempunyai orientasi kegiatan yang berbasis
intelektual. Bahkan kegiatan-kegiatan yang berbasis intelektual tersebut dari
beberapa organisasi kemahasiswaan menjadikannya sebagai syarat mutlak untuk
kader bergabung di dalamnya. Pola kaderisasi yang menunjang intelektualitas
kader adalah pokok permasalahan yang menjadi pembahasan di tulisan ini.
Pembahasan
Intelektualitas merupakan hal yang cukup subtansi
dalam diri manusia. Kata intelektual secara klise mempunyai konotasi yang sama
dengan peneliti, ilmuan, cendikiawan dan sebagainya. Secara definitif intelektual
menurut para ahli juga beragam tapi mempunyai makna yang sama.
Menurut
William Sterm (dalam sunarto, 1994) intelektual merupakan kesanggupan
untuk menyesuaikan diri kepada kebutuhan – kebutuhan baru dengan menggunakan
alat berfikir sesuai dengan tujuanya.
Menurut
(Gunarsa, 1991) intelektual merupakan suatu kumpulan kemampuan seseorang
untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan mengamalkanya dalam hubunganya dengan
lingkungan dan masalah – masalah yang timbul.
Menurut
David Wechsler (dalam Saifuddin azwar ,1996) intelektual sebagai
kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan
tertentu, berfikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan secara
efektif.
Menurut
Catel (dalam clark, 1983) intelektual adalah kombinasi sifat -sifat
manusia yang terlihat dalam kemampuan memahami hubungan yang lebih kompleks,
semua proses berfikir abstrak, menyesuaikan diri dalam pemecahan masalah dan
kemampuan memperoleh kemampuan baru.
Menurut
Alfred Binet (dalam sobani Irfan,1986) intelektual adalah suatu
kapasitas yang antara lain mencakup kemampuan:
a)
Menalar
dan menilai
b)
Menyeluruh
c)
Mencipta
dan merumuskan arah berfikir spesifik
d)
Menyesuaikan
pikiran pada pencapaian akhir memiliki kemampuan mengkritik diri sendiri.
Dari berbagai definisi di atas dapat di simpulkan
bahwa, intelektual adalah kemampuan untuk memperoleh berbagai informasi,
berfikir abstrak, menalar,serta bertindak secara efisien dan efektif. Selain
itu, intelektual merupakan kemampuam yang di bawa individu sejak lahir,
intelektual tersebut akan berkembang bila lingkungan memungkinkan dan
kesempatan tersedia sehingga dapat bergerak dan menyesuaikan diri terhadap
situasi baru.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Intelektual
a. Bertambahnya informasi yang
disimpan dalam otak seseorang sehingga mampu berfikir reflektif.
b. Banyaknya pengalaman dan latihan-latihan memecahkan masalah sehingga
seseorang dapat berfikir proporsional.
c.
Adanya kebebasan berfikir, menimbulkan keberanian seseorang dalam Menyusun
hipotesis-hipotesis yang radikal, kebebasan menjajaki masalah secara
keseluruhan, dan menunjang keberanian anak memecahkan masalah dan menarik
kesimpulan yang baru dan benar.
Berangkat
dari itu intelektualitas pada pola kaderisasi adalah hal yang mendasar bagi
calon kader untuk mengembangkan potensi dirinya dalam menemukan jati diri pada
proses kaderisasi. Pola kaderisasi terbagi menjadi dua yaitu, pola kaderisasi
formal dan non formal, Pada pola kaderisasi formal biasanya bersifat mengikat
dan di atur dalam standar kaderisasi setiap organisasi tertentu, seperti
Latihan dasar kepemimpinan, pelatihan khusus, training-training. Sedangkan pola
kaderisasi non formal adalah pola kaderisasi yang tidak mengikat, fleksibel, tidak
dalam kondisi atau waktu tertentu, seperti membina pergaulan social kader
sehari-hari.
Proses kaderisasi yang baik dan efektif adalah pola
kaderisasi yang mengedepankan dan mengutamakan intelektualitas kader. Dengan
demikian organisasi seharusnya mengaplikasikan kegiatan yang menunjang ilmu
pengetahuan seperti kajian-kajian ilmiah, membuat kelas-kelas, studi kasus,
stadium general, dan lain sebagainya.
Selain
itu, kegiatan oraganisasi yang berbasis intelektual harus di seimbangkan dengan
kegiatan-kegiatan yang menunjang kemampuan teknis kader seperti mengadakan
kegiatan kepanitiaan yang tidak terlalu menyita banyak waktu dan tenaga. Karena
tidak dapat dipungkiri dalam penyelenggaraan kegiatan kita membutuhkan keduanya
(ilmu pengetahuan dan kemampuan teknis).
Karena
menurut saya kemapuan-kemampuan teknis kader
merupakan salah satu ilmu pengetahuan non teoritis dan menuntut lebih
banyak eksperimen di lapangan. dengan demikian pada pola kaderisasi sangat
membutuhkan intelektualitas dengan berbagai varianya.
Rati Tiar (Humas dan Advokasi 2022)
Komentar
Posting Komentar