KESADARAN DIRI MENJADI KUNCI UTAMA KEMAJUAN LEMBAGA
Pendahuluan
Secara umum dalam organisasi atau lembaga sering kita dapati bahwa organisasi tersebut mempunyai aturan main atau konstitusi yang berlaku dan mengikat seluruh elemen yang ada dalam organisasi atau lembaga tersebut. Organisasi atau lembaga juga mempunyai jenis-jenisnya. Salah satunya adalah organisasi kemahasiswaan.
Organisasi kemahasiswaan merupakan sebuah wadah pengembangan kompetensi diri yang menuntut mahasiswa untuk bersaing. Pengalaman dalam berorganisasi merupakan modal utama untuk menunjang keberlangsungan hidup di masa depan. Tentu pengalaman tersebut berangkat dari apa yang kemudian menjadi agenda organisasi. Secara umum organisasi kemahasiswaan mempunyai orientasi kegiatan yang berbasis intelektual. Bahkan kegiatan-kegiatan yang berbasis intelektual tersebut dari beberapa organisasi kemahasiswaan menjadikannya sebagai syarat mutlak untuk kader bergabung di dalamnya. Pola kaderisasi yang menunjang intelektualitas kader adalah pokok permasalahan yang menjadi pembahasan di tulisan ini.
Pembahasan
Definisi kesadaran diri adalah kesadaran untuk berusaha lebih memperhatikan pikiran, perilaku, perkataan, dan perasaan seseorang. Dengan kata lain, kesadaran diri adalah sikap untuk mengenali dan memahami diri sendiri. Berdasarkan artikel yang berjudul "Self-awareness, Perspective-taking, and Egocentrism" yang ditulis oleh Scaffidi Abbate et al. tahun 2016, kesadaran diri akan mempengaruhi cara pandang seseorang dan terhindar dari sifat egosentris. Egosentris sendiri merupakan ketidakmampuan untuk melihat sudut pandang orang lain dalam melihat suatu masalah dan mementingkan perspektif dirinya sendiri. Kesadaran diri mengarah pada peningkatan pertimbangan sudut pandang orang lain. Dengan adanya kesadaran dalam diri seorang individu maka sifat egosentris tersebut akan berkurang atau bahkan hilang.
Kesadaran diri juga dapat mempengaruhi emosi dengan membuat sikap dan kebiasaan yang relevan dengan emosi lebih selaras dengan perilaku. Hal tersebut sejalan dengan artikel yang berjudul "Self-awareness and Emotional Intensity" yang ditulis oleh Silvia tahun 2002. Manusia dapat mengarahkan perhatiannya pada diri sendiri dan dengan demikian menyadari keberadaan mereka. Emosi selalu memainkan peran penting dalam model psikologis kesadaran diri. Sehingga dengan adanya kesadaran diri, manusia dapat lebih mengontrol emosi dan perilakunya.
Banyak dari kita menganggap jika memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu yang kita inginkan untuk tujuan baik itu merupakan hal yang benar untuk dilakukan. Namun, daya tangkap masing-masing individu itu berbeda. Kesadaran untuk melakukan sesuatu itu muncul apabila hati dan pikiran itu ikhlas dan tulus untuk melakukannya. Tidak dengan paksaan. Namun, banyak fenomena terjadi di lingkungan bahwa dengan paksaan orang akan menjadi lebih terbiasa melakukan sesuatu.
Di ranah organisasi seperti , kesadaran internal perlu ditumbuhkan dan dibangun sehingga dapat mencetak kader-kader yang militan serta tidak mengedepankan sikap egois dalam mengambil keputusan. Namun faktanya, tidak semua kader memiliki kesadaran dalam berorganisasi, terutama dalam hal kerja sama. Contohnya, suatu ketika seorang kader yang hanya sekadar ikut-ikutan saja dan menunggu instruksi untuk melakukan sesuatu. Orang ini berpikir kalau melakukan hal tanpa diperintah terlebih dahulu itu berujung melakukan kesalahan. Tentunya hal ini menyebabkan terjadinya miss communication.
Pentingnya menumbuhkan kesadaran dan kepekaan ini seharusnya sudah diketahui sejak kita mulai berkecimpung di dunia organisasi. Sebagai kader yang mempunyai militansi yang tinggi dan etos kerja yang baik, seharusnya kepekaan kita itu sudah seharusnya menjadi prinsip kita dalam menjalankan suatu amanah atau kewajiban. Namun faktanya, tidak semua orang memiliki prinsip yang sama. Hal ini dapat menyebabkan terhambatnya progres pimpinan dalam mencapai visi misinya. Akibatnya, target dan tujuan yang sudah dirancang tidak terlaksana dengan baik.
Bagi sebagian orang, memaksa orang lain melakukan sesuatu itu dapat memuaskan hati kita. Dalam organisasi sendiri, kader-kader junior yang baru saja mengenal dunia organisasi, terkadang dituntut untuk bisa melakukan apapun yang diperintahkan oleh Pimpinan. Hal ini, menurut saya adalah sikap yang kurang pas. Selain menerapkan sistem senioritas, sikap ini juga menyebabkan terjadinya kesalahpahaman di antara pimpinan dan anggota. Memang, menurut pimpinan sendiri itu sudah menjadi tanggung jawab mereka selaku anggota. Namun, jikalau dengan tuntutan atau perintah, itu tidak akan diterima dengan baik. Alhasil mereka melakukan nya dengan terpaksa dan itu hanya akan meninggalkan bekas luka didalam hati mereka.
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran internal, misalnya dengan memberi contoh mulai dari diri kita sendiri dan melakukan bimbingan rutin terhadap kader. Hal ini tidak hanya berlaku untuk kader baru saja, melainkan untuk semua kader yang merasa dirinya belum maksimal dalam melaksanakan roda kepemimpinan. Saling bertukar pikiran dan bincang santai juga sangat membantu sesama kader agar memudahkan kita dalam memahami satu sama lain. Terkadang kegiatan-kegiatan itulah yang sangat dirindukan oleh para kader di tengah padatnya jadwal program kerja yang harus dilaksanakan.
Sebagai kader, kita seharusnya mengerti bahwa tidak semua orang mampu untuk melakukan apa yang kita inginkan. Tiap orang memiliki kondisi yang berbeda-beda, baik itu fisik, mental maupun pemikirannya. Jadi, untuk menumbuhkan kesadaran internal perlu adanya kerjasama dan kesepakatan bersama bahwa kita di organisasi itu merupakan satu tubuh. Jika satu bagian badan sakit, maka anggota tubuh yang lain akan merasakannya. Mementingkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi itu perlu dilakukan. Melakukan sesuatu tanpa paksaan, melainkan dengan bimbingan agar kita lebih tahu cara melakukan yang benar dan menjadi evaluasi diri untuk kedepannya. Maka dari itu, perlu bagi kita untuk bergotong-royong agar terciptanya organisasi yang inovatif dan mandiri.
Kesimpulan
Bahwa kesadaran diri sangat diperlukan bagi setiap individu. Dengan kesadaran diri, individu akan lebih berusaha untuk memperhatikan pikiran, perilaku, perkataan dan perasaan yang dimilikinya. Dengan kesadaran diri kita dapat mengenali dan memahami diri kita sendiri.
Di ranah organisasi seperti , kesadaran internal perlu ditumbuhkan dan dibangun sehingga dapat mencetak kader-kader yang militan serta tidak mengedepankan sikap egois dalam mengambil keputusan. Namun faktanya, tidak semua kader memiliki kesadaran dalam berorganisasi, terutama dalam hal kerja sama. Contohnya, suatu ketika seorang kader yang hanya sekadar ikut-ikutan saja dan menunggu instruksi untuk melakukan sesuatu. Orang ini berpikir kalau melakukan hal tanpa diperintah terlebih dahulu itu berujung melakukan kesalahan. Tentunya hal ini menyebabkan terjadinya miss communication.
![]() |
| “Sesuatu yang baik itu di mulai dari diri sendiri, bukan dari orang lain” |

Komentar
Posting Komentar