CRITICAL RIVIEW READING BOOK REKAYASA SOSIAL
Kesalahan-Kesalahan Berfikir
1. Fallacy of Dramatic Instance
Fallacy of Dramatic Instance adalah kesalahan berpikir yang terjadi ketika seseorang cenderung untuk mengeneralisasi suatu argumen berdasarkan satu, dua,atau tiga kasus saja. Hal ini dapat menyebabkan kesimpulan yang tidak akurat karena tidak mencakup keragaman situasi yang mungkin terjadi. Contoh dari fallacy of dramatic instance adalah ketika seseorang percaya bahwa pendapat seorang dosen benar karena ia seorang guru besar,tanpa mempertimbangkan fakta atau teori ilmiah yang ada.
Dalam konteks yang lebih luas,kesalahan ini merupakan salah satu dari sembilan jenis kesalahan berpikir yang perlu diwaspadai, seperti yang dijelaskan dalam buku "Social Problems andtheQuality of Life". Kesalahan ini juga dapat ditemukan dalam berbagai konteks, termasuk dalam analisis sumber kesesatan dan dalam pembelajaran melalui flashcards.
2. Fallacy Of Retrospective Determinsm
Adalah sebuah kesalahan berpikir yang terjadi ketika seseorang menganggap bahwa suatu kejadian yang terjadi sekarang tidak bisa dihindari atau merupakan akibat dari proses sejarah. Kesalahan ini muncul ketika seseorang meyakini bahwa kejadian tersebut seharusnya bisa diprediksi sebelumnya. Hal ini merupakan bias kognitif yang membuat individu percaya bahwa hasil dari suatu kejadian seharusnya bisa dilihat sebelum kejadian tersebut terjadi. Kesalahan ini dapat menyebabkan penilaian yang tidak akurat terhadap masa depan dan mengabaikan detail-detail penting yang seharusnya digunakan untuk membuat keputusan yang lebih baik.
Dalam konteks yang lebih luas, kesalahan ini merupakan salah satu dari beberapa kesalahan berpikir yang dijelaskan oleh Jalaluddin Rakhmat dalam pembahasan mengenai kesalahan berpikir manusia. Kesalahan ini juga dapat ditemukan dalam berbagai konteks, seperti dalam pembahasan tentang kesalahan berpikir manusia dan dalam literatur ilmiah mengenai cognitivebias.
3. Posh Hoc Ergo Propter Hoc
Sebuah kesalahan logika yang terjadi ketika seseorang menyimpulkan bahwa karena peristiwa Y mengikuti peristiwa X, maka peristiwa Y pasti disebabkan oleh peristiwa X. Dalam bahasa Latin, post hoc ergo propter hoc berarti "setelah ini, oleh karenaitukarenaini."Kesalahan ini merupakan salah satu jenis kesalahan kausalitas yang termasuk dalam kategori kesalahan logika informal. Hal ini berbeda dengan kesalahan cum hoc ergo propter hoc, di mana dua peristiwa terjadi bersamaan atau urutan kronologis tidak signifikan atau tidak dikenal.
Kesalahan ini sering terjadi karena urutan temporal tampaknya menjadi bukti kausalitas, padahal sebenarnya tidak demikian. Contoh dari kesalahan ini adalah asumsi bahwa karena seseorang menggunakan ponselnya sebelum hujan turun, maka penggunaan ponselnya menyebabkan hujan. Kesalahan ini dapat mengakibatkan penarikan kesimpulan yang tidak tepat karena mengabaikan faktor- faktor lain yang mungkin mempengaruhi hubungan antara dua peristiwa.
Kesalahan post hoc ergo propter hoc telah dijelaskan dalam berbagai literatur ilmiah dan sumber-sumber akademis, serta sering diamati dalam kehidupan sehari- hari. Kesalahan ini merupakan salah satu dari banyak kesalahan logika yang perlu diwaspadai dalam proses penalaran dan pengambilan keputusan.
4. Fallacy of misplaced concreteness
Fallacy of misplaced concreteness adalah kesalahan berpikir yang terjadi ketika seseorang menganggap sesuatu yang seharusnya bersifat abstrak atau konseptual sebagai sesuatu yang konkret atau nyata. Kesalahan ini terjadi ketika seseorang membingungkan konsep abstrak dengan sesuatu yang nyata. Contohnya adalah ketika seseorang menganggap bahwa kebahagiaan hanya dapat ditemukan dalam kepemilikan benda-benda material, padahal kebahagiaan sebenarnya bersifat abstrak dan subjektif.
Alfred North Whitehead, seorang filsuf, memperkenalkan konsep ini dalam bukunya "Process and Reality" (1929). Ia menjelaskan bahwa kesalahan ini terjadi ketika orang salah menganggap konsep abstrak sebagai deskripsi yang akurat terhadap realitas. Contoh lain dari kesalahan ini adalah ketika seseorang menganggap bahwa keberuntungan hanya dapat diperoleh melalui benda-benda tertentu, padahal keberuntungan sebenarnya bersifat abstrak dan tidak terkait dengan benda-benda konkret.
Kesalahan ini dapat memengaruhi cara seseorang memandang dunia dan membuat keputusan. Kesalahan ini juga dapat memengaruhi cara seseorang memahami konsep-konsep abstrak dan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penting untuk mengenali kesalahan ini agar dapat membuat penilaian yang lebih akurat dan berpikir secara lebih kritis.
5. Argumentum ad verecundiam
Argumentum ad verecundiam adalah kesalahan berpikir yang terjadi ketika seseorang menggunakan otoritas atau keahlian seseorang sebagai dasar untuk menganggap bahwa argumen yang dibuat oleh orang tersebut benar tanpa mempertimbangkan bukti atau alasan yang lebih kuat. Kesalahan ini terjadi ketika seseorang menganggap bahwa pendapat seseorang yang dianggap sebagai ahli dalam bidang tertentu selalu benar tanpa mempertimbangkan bukti atau alasan yang lebih kuat. Contohnya adalah ketika seseorang menganggap bahwa pendapat seorang dokter selalu benar tanpa mempertimbangkan bukti atau alasan yang lebih kuat.
Kesalahan ini dapat memengaruhi cara seseorang memandang dunia dan membuat keputusan. Kesalahan ini juga dapat memengaruhi cara seseorang memahami konsep-konsep abstrak dan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penting untuk mengenali kesalahan ini agar dapat membuat penilaian yang lebih akurat dan berpikir secara lebih kritis.
6. Fallacy of composition
Fallacy of composition adalah kesalahan logika yang terjadi ketika seseorang mengasumsikan bahwa apa yang benar untuk bagian-bagian individu dari suatu sistem juga benar untuk keseluruhan sistem tersebut. Kesalahan ini terjadi ketika seseorang menganggap bahwa sifat atau karakteristik yang dimiliki oleh bagian- bagian individu. dari suatu sistem juga berlaku secara keseluruhan. Contohnya adalah asumsi bahwa karena setiap anggota tim sepak bola adalah atlet yang kuat, maka tim sepak bola secara keseluruhan pasti akan menjadi tim yang kuat.
Kesalahan ini dapat mengakibatkan penarikan kesimpulan yang tidak tepat karena mengabaikan kompleksitas hubungan antara bagian-bagian individu dan keseluruhan sistem. Kesalahan ini juga dapat memengaruhi cara seseorang memahami interaksi antara bagian-bagian individu dan keseluruhan sistem dalam berbagai konteks, seperti dalam ilmu ekonomi, sosiologi, dan ilmu lainnya.
Kesalahan ini telah dijelaskan dalam berbagai literatur ilmiah dan sumber-sumber akademis, serta sering diamati dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu,penting untuk mengenali kesalahan ini agar dapat membuat penilaian yang lebih akurat dan berpikir secara lebih kritis.
7. Circular Reasoning
Circular reasoning, atau dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai "pemikiran yang berputar-putar," adalah sebuah kesalahan logika dimana seseorang menggunakan kesimpulan yang sama sebagai premis dalam argumennya. Dengan kata lain, kesimpulan yang ingin dibuktikan sebenarnya sudah menjadi bagian dari premisnya. Contoh sederhana dari circular reasoning adalah "Saya tahu bahwa dia jujur karena dia mengatakan yang sebenarnya."
Kesalahan ini dapat mengakibatkan penarikan kesimpulan yang tidak tepat karena argumen tersebut tidak memberikan alasan yang kuat atau bukti yang mendukung kesimpulan yang dihasilkan. Circular reasoning seringkali digunakan untuk"membulatkan argumen" tanpa memberikan dasar yang kuat.
Circular reasoning telah dijelaskan dalam berbagai literatur ilmiah dan sumber- sumber akademis, serta sering diamati dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penting untuk mengenali kesalahan ini agar dapat membuat penilaian yang lebih akurat dan berpikir secara lebih kritis.
![]() |
| Foto Muhammad Fadikholilah Kahfi |

Komentar
Posting Komentar