Meneladani Moralitas Keberagamaan Ibrahim dan Anaknya
Peristiwa penyembelihan hewan qurban setiap tahun atau hari raya idul Adha bagi
umat muslim menyimpan kenangan historis tersendiri pada sosok Ibrahim. Begitu
juga pada agama lain khususnya agama samawi (Yahudi dan Kristen) yang
mengafirmasi peristiwa ini. Menandakan bahwa doktrin penyembelihan anak Ibrahim
menjadi tradisi pada agama-agama tersebut dan dipertahankan sampai sekarang
(walaupun ada perdebatan terkait Ishaq atau Ismail yang ingin disembelih).
Mengingat juga sosok Ibrahim atau Abraham menjadi begitu sentral dalam tradisi
agama Yahudi dan Kristen. Semua agama tersebut mengklaim bahwa ajarannya hari
ini adalah warisan corak keberagamaan Ibrahim yang monotheistik.
Tapi kecendrungan doktrinal tersebut jangan sampai membawa pada sikap yang fanatik
tanpa memahami secara filosofis apa yang kemudian menjadi pesan moral atau ibroh
pada peristiwa dramatis itu. Perenungan filosofis itu secara radikal mewujud
pada pertanyaan, “bagaimana mungkin seorang ayah ingin menyembelih anaknya”?,
bagaimana mungkin Tuhan menyuruh seseorang untuk menyembelih anaknya”?, “kok
bisa agama-agama membela Ibrahim dan melanggengkan peristiwa itu”?, bukankah itu
amoral? “Bukankah itu tidak manusiawi karena menghilangkan nwa orang terlebih
itu adalah anaknya sendiri”. Tetapi itu kemudian diceritakan dengan dalih untuk
menguji iman nabi Ibrahim dan anaknya.
Mari kita kroscek doktrin agama ini dan
memetik hikmah apa yang kemudian bisa kita amalkan. Peristiwa itu sangat eksplisit terekam dalam Q.S. As shaffat : 101. “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata :”Hai anakku sesungguhnya aku melihatmu dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah
apa pendapatmu!. Ia menjawab :”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan
kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Nampaknya Al-Qur’an betul-betul menggambarkan Ibrahim dan Ismail sebagai sosok yang seolah-olah tau konsekuensi berserah diri di jalanNya atau setidaknya
mempunyai kesadaran intuitif terkait pengabdian hidup di jalan Allah akan
memberikan keselamatan.
Yang mendasari ketaatan Ibrahim dan Ismaikeikhlasan. Tentu dalam Al-Qur’an (q.s Al a’raf : 29) ikhlas menjadi ciri kuat
pribadi muslim (orang berserah diri). Seolah Tuhan memberikan kesempatan bagi
Ibrahim melalui mimpinya untuk anaknya menjadi syahid. Jadi jika Tuhan menguji
keikhlasan keduanya maka mereka lolos ujian tanpa harus sampai proses akhir.
Selain itu, ayat itu juga mencerminkan keterbukaan Ibrahim kepada Ismail terkait
mimpi yang dialaminya. Ismail bisa saja menolak perintah itu dan tidak
mengizinkan ibrahim melakukannya. Tetapi karena mereka yakin konsekuensi
keikhlasan hidup di jalan Tuhan maka mereka menghendakinya. Olehnya, peristiwa
tersebut tidak bisa dipahami sebagai pembunuhan sebagaimana yang kita pahami.
Dalam tradisi Islam melalui Al-Qur’an kita memahami bahwa peristiwa itu
didasarkan atas kepedulian dan kesejahteraan orang lain.
Adapun sifat
keberagaman nabi Ibrahim sebagai seorang yang ikhlas tentu sulit untuk
diimplementasikan karena melibatkan kesukarelaan tanpa paksaan yang didorong
oleh kemauan yang murni. Orientasi aktivitas manusia yang ikhlas adalah
menghasilkan peradaban yang baik. Selain itu, keterbukaan bagi muslim harus
menjadi pilar utama dalam mengemban amanah sebagai hamba sekaligus khalifah.
Eksklusifisme akan melahirkan sikap intoleran dan memantik permusuhan.
Olehnya
mengimani nabi-nabi termasuk nabi Ibrahim dan Ismail menguatkan ukhuwah sesama
manusia sebagai warisan akan menegakkan tiga visi Islam yaitu keadilan (justice)
kesetaraan (equality), dan persatuan (unity).
Tentu banyak lagi yang bisa kita
jadikan teladan dari muslim sekaliber Ibrahim dan Ismail bagi pembaca.
Penulis : Eden (Mahasiswa Jurusan Ekonomi Islam Angkatan 2020)

Komentar
Posting Komentar