Kesadaran Berlembaga
Pendahuluan
Organisasi sebagai salah satu bagian penggerak dari suatu universitas tentunya memiliki peranan yang sangat penting. Begitu juga dengan komponen yang ada di dalamnya, semua sangat berperan penting. Pentingnya berorganisasi ini telah diungkapkan oleh sayyidina Ali Karamallahu Wajhah empat belas abad yang lalu bahwa kejahatan yang terorganisasi dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisasi. Organisasi menjadi sarana pembelajaran hal fundamental sebagai seorang mahasiswa untuk mengarungi dunia pasca-kuliah. Akan tetapi ketika melihat realitas yang terjadi saat ini bahwa telah terjadi penurunan tingkat kesadaran berlembaga maka penulis memandang perlu dilakukan revitalisasi kesadaran berlembaga bagi setiap elemen yang ada dalam sebuah organisasi.
Pembahasan
Definisi kesadaran diri adalah kemampuan untuk secara aktif memantau dan mengamati pikiran, perilaku, kata-kata, dan perasaan seseorang. Dalam kata lain, kesadaran diri melibatkan kemauan untuk mengenali dan memahami diri sendiri. Sederhananya, mereka yang memiliki kesadaran diri tinggi dapat menafsirkan tindakan, perasaan, dan pikirannya secara objektif. Kesadaran diri dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk mempertimbangkan sudut pandang orang lain. Dengan meningkatnya kesadaran diri, perilaku egosentris dapat berkurang atau bahkan hilang.
Selain itu, kesadaran diri juga memiliki dampak pada emosi seseorang dengan membantu menyelaraskan sikap dan kebiasaan yang berkaitan dengan emosi mereka. Hal ini sejalan dengan artikel yang berjudul "Self-awareness and Emotional Intensity" yang ditulis oleh Silvia pada tahun 2002. Emosi selalu memiliki peran penting dalam konsep psikologis kesadaran diri. Oleh karena itu, kesadaran diri dapat membantu individu lebih mengendalikan emosi dan perilaku mereka.
Terkait dengan memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu, kesadaran mendorong pemahaman bahwa tindakan yang dilakukan dengan ikhlas dan sukarela lebih baik daripada menggunakan cara paksaan. Namun, di beberapa situasi, tuntutan atau perintah masih dapat diperlukan. Dalam konteks organisasi, penting untuk membangun kesadaran internal di antara anggota agar keputusan dapat diambil dengan mengutamakan kepentingan bersama daripada ego pribadi. Melalui bimbingan, komunikasi terbuka, dan kolaborasi, kesadaran internal dapat ditingkatkan untuk mencapai tujuan bersama tanpa perlu memaksa.
Menurut artikel (Showry & Manasa, 2014) Kesadaran diri memainkan peran penting dalam kepemimpinan yang efektif, berfungsi sebagai landasan fundamental bagi pengembangan pribadi dan profesional karena kesadaran diri mencakup kapasitas untuk secara tidak memihak mengakui dan memahami emosi, kekuatan, kelemahan, dan nilai-nilai diri sendiri.
Dalam rangka menumbuhkan kesadaran internal, perlu memberikan contoh dari diri sendiri, memberikan bimbingan kepada kader, dan mendorong dialog terbuka antara anggota organisasi. Kesadaran ini tidak hanya berlaku untuk anggota baru tetapi untuk semua anggota yang ingin meningkatkan kontribusi mereka. Dengan kerjasama yang kuat, organisasi dapat menjadi lebih inovatif dan efisien dalam mencapai tujuannya.
Penutup
Kesadaran diri adalah hal yang sangat penting bagi setiap orang (individu). oleh karena itu, mengenal diri sendiri memungkinkan seseorang untuk menghadapi orang dan keadaan yang berbeda dengan lebih baik. Memahami realitas yang berbeda dan memprediksi hasil akan memandu seorang pemimpin untuk berhubungan lebih baik, meningkatkan motivasi individu dan umum untuk mencapai tujuan bersama, karena hal ini berarti mengakui nilai setiap individu bagi organisasi dan memberikan tanggung jawab dan penghargaan yang sesuai sebagai pengakuan atas pencapaiannya. Manfaat yang bisa kita ambil dari kesadaran diri yakni: kemampuan yang lebih besar untuk mengatur emosi, mengurangi stres, dan meningkatkan kebahagiaan dan lebih percaya diri
Di dalam konteks organisasi, seperti yang telah disebutkan, penting untuk mengembangkan kesadaran internal agar dapat menciptakan kader-kader yang berkomitmen dan menghindari perilaku egois dalam pengambilan keputusan. Namun, disayangkan bahwa tidak semua anggota memiliki tingkat kesadaran yang cukup dalam berorganisasi, terutama dalam hal kerjasama. Sebagai contoh, ada anggota organisasi yang hanya mengikuti arahan dan tidak berinisiatif untuk bertindak tanpa instruksi langsung. Mereka merasa bahwa melakukan sesuatu tanpa perintah akan berpotensi menyebabkan kesalahan. Ini tentu saja dapat mengakibatkan kesalahan komunikasi yang berdampak negatif.
Penulis : Muhammad Rayhan Azis

Komentar
Posting Komentar