Melacak Entitas kesadaran kritik dan Humanis dalam Ruh pendidikan

Melacak Entitas Kesadaran Kritis dan Humanis dalam Ruh Pendidikan

Menurut Agus Nuryatno (2011) Pendidikan membuat individu sadar akan dirinya dan realitas serta mengubah realitas tersebut kepada arah yang lebih baik. Argumentasi tersebut diperjelas oleh Paulo Freire (2024) maksud dari "kepada arah yang lebih baik" itu adalah paham akan Humanisme sehingga arti pendidikan yang dimaksud adalah Sadar akan dirinya sebagai makhluk humanis dan melakukan humanisasi dalam mengubah realitas. Pada ide tersebut dapat kita tarik suatu entitas yang pada pendidikan hari ini kehilangan ruhnya, ruh yang dimaksud adalah kesadaran dalam pendidikan.

Dalam upaya mendidik memiliki dua tujuan fundamental yaitu: Pertama, kesadaran kognitif kritis, yang umumnya kesadaran ini bersinggungan langsung dengan kemampuan berpikir setiap individu yang terarah pada pikiran yang kooperate yakni bagaimana kita membuat orang lain memiliki kemampuan berpikir seperti yang kita miliki dalam artian di saat diketahui bahwa individu yang lain tidak memiliki pengetahuan dalam suatu masalah pada dirinya pada saat itulah kesadaran kognitif ini dapat diterapkan membantu individu tersebut menyelesaikan suatu permasalahan dengan cara mengajarkan suatu metode pemecahan masalah.

Penulis teringat dengan suatu peristiwa tentang hal kesadaran kognitif kritis ini, saya dapati dalam materi-materi di saat mengikuti proses masuk organisasi ada suatu istilah yang disebut RAKUS yang artinya Rasional, Analitik, Kritis, Universal, dan Sistematis. Istilah tersebut dapat menjadi satu kerangka analisis dalam bagaimana individu berpikir namun menurut pribadi Ruh RAKUS pada kemampuan kognitif kritis di peserta didik pada umumnya dari tahap SD hingga Universitas telah pudar hingga akhirnya menjadi kehilangan salah satu Ruh pada Pendidikan. Pendidikan berkeinginan bagaimana setiap individu dapat memiliki kemampuan berpikir tersebut dalam bagian seseorang menyadari keberadaan dirinya serta pada upaya merubah realitas sosial ke arah yang humanis.

Setelah kesadaran kognitif kritis yang menunjang bagaimana kemampuan berpikir individu pendidikan juga memiliki tujuan yang kedua, yaitu Kesadaran sosial. Menurut Moh. Yamin (2024) kesadaran sosial mengarah bagaimana potensi rasa pada manusia pada lingkungan agar peka pada persoalan masyarakat sekaligus dapat memberikan tawaran konkret terhadap persoalan masyarakat yang sedang berkecamuk. Artinya dalam kerja mendidik seluruh peserta didik harusnya dibentuk menjadi insan memiliki karakter yang observatif-analitik pada kehidupan sosial namun realitas pendidikan hari ini bukan membawa pada kerja kooperate dalam arti bersama-sama dalam menyelesaikan suatu problem seperti pada konteks gotong royong namun membawa pada kerja kompetisi yang saling menjatuhkan dimana paham persaingan ini hadir karna adanya corak paham kapitalisme dalam pendidikan yang berujung pada persaingan pendidikan dan menciptakan kondisi apatis pada lingkungan sosial.

Hilangnya Ruh adalah dampak nyata dari besarnya dominasi Kapitalisme pada pendidikan yang menanamkan bagaimana paham kapital bekerja, bagaimana paham individualistik bekerja, bagaimana paham objektivisme bekerja dan menuju pada satu karakter "semuanya hanya bergantung pada diri sendiri" dan menjadi cerminan kondisi masyarakat bahwa suatu peradaban ditopang oleh ilmu pengetahuan yang benar dan secara umum tempat perolehan ilmu pengetahuan adalah lembaga atau institusi pendidikan. Maka darinya wajah karakter individu yang ingin serba cepat, yang ingin di saat selesai bekerja langsung mendapat hasil, ingin menang sendiri, dan acuh terhadap ketidakmampuan orang lain adalah cerminan dari pendidikan hari ini yang sangat didominasi oleh paham kapitalisme

Akhir kata tulisan ini juga menjadi kritik bagi pribadi terhadap bagaimana sikap pribadi dalam melihat pendidikan sekaligus menjadi upaya penyadaran pada seluruh insan bahwa pendidikan lebih dari sekedar nilai yang berada di atas kertas dan mari kita hadirkan kembali kesadaran kritis dan humanis yang sebenarnya melekat pada ruh pendidikan namun telah dipaksa hilang sebab kepentingan kapital.


Penulis: Muhammad Fadikholilah Kahfi, Mahasiswa Ekonomi Islam, Angkatan 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ORGANISASI MAHASISWA: TEMPAT BELAJAR ATAU TEMPAT KABUR BELAJAR?

Tolak Penjualan Buku Oleh Dosen, Aksi Kampanye LK FEBI

MENEROPONG PENDIDIKAN MAINSTREAM UINAM MELALUI PENDIDIKAN KRITIS