APA YANG MEMBUAT DIRIMU BAHAGIA?

Setiap orang memiliki defenisi yang berbeda tentang bahagia, ketika diberi pertanyaan seperti itu penulis teringat apa yang dikatakan oleh Aristoteles "Kita hendaknya hidup dengan cara yang membuat kita bahagia dan orang tidak akan bahagia ketika berusaha untuk bahagia", disinilah letak paradoksnya manusia pasti akan sulit untuk bahagia ketika terlalu mengejar atau berusaha untuk bahagia. Hal ini memang pertanyaan yang sangat sulit untuk kita jawab dan balik lagi setiap orang mempunyai defenisi masing-masing tentang kebahagian, penulis sendiri beranggapan dalam memenuhi kebahagian adalah "Kalau kamu sendiri masih tidak paham siapa kamu, apa maumu, maka kamu tidak akan bisa bahagia".

Bahagia tidak selalu hadir dalam bentuk megah atau gemerlap, kadang kala dia berwujud sederhana seperti kehadiran orang-orang disekitar, perhatian orang-orang, dan ruang untuk bercerita. Bahagia adalah perasaan yang tumbuh ketika seseorang mampu mensyukuri apa yang ada, bukan menyesali apa yang hilang. Paradoksnya manusia cenderung bingung ketika berbicara tentang bahagia.

Pada akhirnya kebahagiaan bukanlah tujuan akhir yang menunggu, melainkan langkah-langkah kecil yang dijalani setiap hari. Bahagia kadang datang dalam bentuk tawa, kadang pula tersembunyi dibalik air mata, la tidak selalu hadir pada saat yang kita inginkan. Manusia sering kali lupa bahwa kebahagiaan bukan sesuatu yang harus dikejar hingga lelah. Kebahagiaan lebih sering kita dapat oleh hati yang tenang dan jiwa yang tulus untuk menerima hidup apa adanya. Ditengah hiruk pikuk dunia yang saling berlomba menunjukkan kesempurnaan, kebahagiaan justru tumbuh dalam kesederhanaan dan ketulusan. Dan sejatinya bahagia bukan milik mereka yang tidak pernah gagal, melainkan mereka yang mampu bangkit dengan senyum meski hati sempat patah.

Ketika waktu terus berjalan, manusia perlahan menyadari bahwa kebahagiaan tidak pernah benar-benar hilang, hanya saja sering tertutup oleh keinginan yang terlalu banyak. Bahagia tidak memerlukan alasan besar untuk hadir, dia cukup datang melalui hati yang lapang dan rasa syukur yang tulus. Dalam keheningan manusia akan mengerti bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang apa yang dimiliki, tapi tentang bagaimana dia memaknai setiap kehidupan. Sebab selama manusia masih mampu mencitai dan memaafkan maka sesungguhnya ia telah memiliki bentuk kebahagiaan paling utuh.

Penulis: Muh Al Ansyari, Mahasiswa Ekonomi Islam, Angkatan 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ORGANISASI MAHASISWA: TEMPAT BELAJAR ATAU TEMPAT KABUR BELAJAR?

Tolak Penjualan Buku Oleh Dosen, Aksi Kampanye LK FEBI

MENEROPONG PENDIDIKAN MAINSTREAM UINAM MELALUI PENDIDIKAN KRITIS