Dari Resistensi Regional menuju Solidaritas Transnasional: Membaca Universalitas Perjuangan Iran
Iran dan Transformasi Narasi Perlawanan di Dunia Islam
Dunia Islam hari ini sedang berada dalam situasi yang paradoks. Di satu sisi, umat Islam merupakan salah satu komunitas terbesar di dunia dengan sumber daya alam, populasi, dan posisi geografis yang strategis. Namun di sisi lain, dunia Islam justru tampak tercerai-berai oleh konflik internal, rivalitas politik, sektarianisme, dan intervensi kekuatan eksternal. Banyak negeri Muslim gagal membangun solidaritas yang kuat bahkan untuk menghadapi persoalan yang menyentuh kesadaran kolektif umat, seperti pembantaian di Palestina oleh entitas anti kemanusiaan dengan ideologi zionismenya.
Di tengah situasi tersebut, Iran muncul sebagai fenomena yang menarik. Terlepas dari berbagai kontroversi politik dan perbedaan mazhab, Iran berhasil membangun citra sebagai salah satu negara yang secara konsisten menempatkan isu Palestina dan perlawanan terhadap kekuatan arus utama sebagai bagian penting dari identitas politiknya. Hal inilah yang membuat perjuangan Iran perlahan tidak lagi dipahami semata sebagai agenda nasional atau regional, tetapi mulai dibaca sebagai simbol resistensi yang memiliki resonansi lebih luas di dunia Islam secara khusus.
Selama hampir 50 tahun, Iran menghadapi tekanan yang tidak ringan. Sanksi ekonomi, isolasi diplomatik, penggiringan narasi media, hingga ancaman militer terus diarahkan kepada negara tersebut. Namun menariknya, tekanan itu justru membentuk karakter politik Iran menjadi semakin ideologis dan defensif terhadap dominasi eksternal. Iran tidak hanya berusaha bertahan secara militer, tetapi juga membangun narasi bahwa imperalisme bisa dilawan.
Dalam konteks inilah perjuangan Iran memiliki dimensi yang lebih dalam dibanding sekadar geopolitik biasa. Iran mencoba membangun politik yang tidak sepenuhnya bertumpu pada kepentingan material, tetapi juga pada spirit ideologis dan spiritual. Karakter inilah yang kemudian membuat Iran memiliki daya pengaruh yang melampaui batas geografisnya sendiri.
Spiritualitas, Karbala, dan Energi Ideologis Perjuangan Iran
Salah satu faktor penting yang membedakan Iran dari banyak negara lain adalah keberhasilannya menghubungkan spiritualitas dengan kesadaran politik. Karakter ini sangat dipengaruhi oleh tradisi spiritual Islam Syi’ah, terutama narasi Karbala yang menempatkan perlawanan terhadap kezaliman sebagai prinsip moral sekaligus historis.
Dalam falsafah Islam Syiah, Karbala adalah simbol keberanian menghadapi penindasan meskipun berada dalam posisi yang lemah. Konsep syahadah, pengorbanan, dan pembelaan terhadap kaum tertindas kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa politik modern sekaligus identitas politiknya. Dari sinilah lahir istilah-istilah seperti mustadh‘afin dan perlawanan terhadap arogansi imperealisme. Agama diterjemahkan sebagai energi sosial yang tidak pasif untuk menggerakkan kesadaran kolektif.
Inilah salah satu faktor yang membuat pengaruh Iran melampaui batas negara. Banyak kelompok Muslim di berbagai kawasan mungkin tidak sepakat dengan sistem politik Iran atau identitas mazhabnya, tetapi tetap melihat keberanian Iran sebagai sesuatu yang langka di tengah dunia Islam yang sering kali tunduk pada musuh. Dalam situasi ketika banyak negara Muslim memilih pendekatan pragmatis dan kompromistis, Iran justru membangun citra sebagai negara yang bersedia membayar konsekuensi politik dan ekonomi demi mempertahankan posisi ideologisnya.
Lebih jauh lagi, kekuatan Iran tidak hanya terletak pada persenjataan atau kemampuan militernya, tetapi juga pada kemampuan membangun makna perjuangan. Iran berhasil menghadirkan narasi bahwa perlawanan terhadap dominasi bukan sekadar konflik politik, melainkan bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual. Hal inilah yang membuat perjuangan Iran dipersepsikan memiliki dimensi universal yang harus disambut.
Universalitas Palestina dan Prospek Persatuan Umat Islam
Pengaruh tersebut semakin kuat melalui isu Palestina yang menyentuh hati semua kalangan. Dukungan Iran terhadap Palestina membuat perjuangannya memperoleh dimensi universal yang lebih mudah diterima lintas mazhab. Palestina perlahan menjadi titik temu emosional yang mampu menyatukan berbagai kelompok Muslim yang sebelumnya terpisah oleh identitas politik dan sektarian.
Fenomena ini menunjukkan bahwa solidaritas umat Islam mungkin tidak akan lahir dari kesamaan mazhab semata, melainkan dari kesamaan pengalaman sejarah dan kesadaran kolektif terhadap penindasan. Dalam konteks tertentu, perjuangan Palestina bahkan berhasil menggeser batas-batas identitas sektarian menuju solidaritas yang lebih luas. Banyak umat Islam Sunni maupun Syiah mulai melihat bahwa ancaman terbesar bagi dunia Islam bukan terletak pada perbedaan internal yang mestinya didudukkan pada meja ilmiah, tetapi dominasi eksternal yang terus memanfaatkan perpecahan tersebut melalui kaki tangannya.
Namun demikian, gagasan tentang persatuan umat tentu tidak boleh dipahami secara romantis dan utopis. Dunia Islam masih menghadapi hambatan yang sangat besar. Rivalitas geopolitik antarnegara Muslim, konflik kepentingan elite politik, propaganda media, hingga sentimen sektarian masih menjadi penghalang utama bagi lahirnya solidaritas transnasional yang stabil. Bahkan dalam beberapa kasus, isu mazhab masih digunakan sebagai alat politik untuk melemahkan potensi persatuan umat oleh musuh.
Karena itu, universalitas perjuangan Iran berpotensi akan melahirkan persatuan dunia Islam, setidaknya membuka kemungkinan baru bahwa solidaritas umat dapat dibangun di atas isu-isu yang bersifat universal: keadilan, anti-penjajahan, martabat manusia, dan resistensi terhadap Yazid-Yazid modern. Iran berhasil menunjukkan bahwa kekuatan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh teknologi militer atau ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan membangun kesadaran dan identitas perjuangan yang mampu menyentuh masyarakat lintas batas.
Penulis: Ahmad Raihan, Kader HMJ ekis angkatan 20 dan FPHB (Forum Pemuda Harapan Bangsa)
Komentar
Posting Komentar